Home » ASI

Kapan bayi boleh diberi MPASI ?

7 November 2007 9 Comments

Diambil dari milis motherandchild
(Dirangkum & ditulis bebas oleh Luluk Lely Soraya I, 26 March 2005)

Banyak sekali pertanyaan dan kritik yang timbul mengenai pemberian MP-ASI (Makanan Pendamping ASI) di usia kurang dari 6 bulan. Bahkan banyak dari kita tidak pernah tahu mengapa WHO & IDAI mengeluarkan statement bahwa ASI eksklusif (ASI saja tanpa tambahan apapun bahkan air putih sekalipun) diberikan pada 6 bulan pertama kehidupan seorag anak. Kemudian setelah umur 6 bulan anak baru mulai mendapatkan MPASI berupa bubur susu, nasi tim, buah, dsb.

Alasan menunda pemberian MPASI
Mengapa harus menunda memberikan MPASI pada anak sampai ia berumur 6 bulan?!
Kalo jaman dulu (baca : sebelum diberlakukan ASI eksklusif 6 bulan) umur 4 bulan aja dikasih makan bahkan ada yg umur 1 bulan. Dan banyak yang berpendapat gak ada masalah apa-apa tuh dengan anaknya.

Satu hal yg perlu diketahui bersama bahwa jaman terus berubah. Demikian juga dengan ilmu & teknologi. Ilmu medis juga terus berkembang dan berubah berdasarkan riset2 yg terus dilakukan oleh para peneliti. Sekitar lebih dari 5tahun yang lalu, MP-ASI disarankan diperkenalkan pada anak saat ia berusia 4 bulan. Tetapi kemudian beberapa penelitian tahun2 terakhir menghasilkan banyak hal sehingga MP-ASI sebaiknya diberikan setelah anak berusia lebih dari 6bulan.

Mengapa umur 6 bl adalah saat terbaik anak mulai diberikan MPASI ?!

1.Pemberian makan setelah bayi berumur 6 bulan memberikan perlindungan besar dari berbagai penyakit.
Hal ini disebabkan sistem imun bayi berusia kurang dari 6 bulan belum sempurna. Pemberian MP-ASI terlalu dini sama saja dengan membuka pintu gerbang masuknya berbagai jenis kuman. Belum lagi jika tidak disajikan higienis. Hasil riset terakhir dari peneliti di Indonesia menunjukkan bahwa bayi yg mendapatkan MP-ASI sebelum ia berumur 6 bulan, lebih banyak terserang diare, sembelit, batuk-pilek, dan panas dibandingkan bayi yang hanya mendapatkan ASI eksklusif. Belum lagi penelitian dari badan kesehatan dunia lainnya.

2.Saat bayi berumur 6 bl keatas, sistem pencernaannya sudah relatif sempurna dan siap menerima MPASI.
Beberapa enzim pemecah protein spt asam lambung, pepsin, lipase, enzim amilase, dsb baru akan diproduksi sempurna pada saat ia berumur 6 bl.

3.Mengurangi resiko terkena alergi akibat pada makanan
Saat bayi berumur kurang dari 6 bulan, sel-sel di sekitar usus belum siap untuk mengolah kandungan dari makanan. Sehingga makanan yg masuk dapat menyebabkan reaksi imun dan terjadi alergi.

4.Menunda pemberian MP-ASI hingga 6 bulan melindungi bayi dari obesitas di kemudian hari.

Proses pemecahan sari-sari makanan yg belum sempurna dalam usus bayi, pada beberapa kasus ekstrem ada juga yang memerlukan tindakan bedah akibat pemberian MP-ASI terlalu dini. Dan banyak sekali alasan lainnya mengapa MP-ASI baru boleh diperkenalkan pada anak setelah anak berumur 6 bulan.

Masih banyak yg mengenalkan MP-ASI pada bayi kurang dari 6 bulan
Kalo begitu kenapa masih banyak orangtua yg telah memberikan MP-ASI ke anaknya sebelum berumur 6 bulan? Banyak sekali alasan kenapa ortu memberikan MP-ASI sebelum anak berusia 6 bulan. Umumnya banyak ibu yg beranggapan kalo anaknya kelaparan dan akan tidur nyenyak jika diberi makan. Meski gak ada relevansinya banyak yg beranggapan ini benar.
Kenapa?
Karena belum sempurna, sistem pencernaannya harus bekerja lebih keras utk mengolah & memecah makanan. Kadang anak yg menangis terus dianggap sbg anak gak kenyang. Padahal menangis bukan semata-mata tanda ia lapar.

Belum lagi masih banyak anggapan di masyarakat kita seperti orang tua terdahulu bahwa anak saya gak papa tuh dikasih makan pisang pas kita umur 2 bulan. Malah sekarang jadi orang.

Alasan lainnya juga bisa jadi juga tekanan dari lingkungan dan gak ada dukungan seperti alasan di atas. Dan gencarnya promosi produsen makanan bayi yang belum mengindahkan ASI eksklusif 6 bulan.

Aturan MP-ASI setelah 6 bulan: Karena sebelum berusia 6 bulan mengandung resiko.
Sekali lagi tidak mungkin ada saran dari WHO & IDAI jika tidak dilakukan penelitian panjang. Lagipula tiap anak itu beda. Bisa jadi gak jadi masalah utkkita tapi belum tentu untuk yg lain.

Misalkan, ilustrasinya sama seperti aturan cuci tangan sebelum makan. Ada anak yang dia tidak terbiasa cuci tangan sebelum makan. Padahal ia baru bermain-main dengan tanah dsb. Tapi ia tidak apa-apa. Sedangkan satu waktu atau di anak yang lain, begitu ia melakukan hal tsb ia langsung mengalami gangguan pencernaan karena kotoran yg masuk ke makanan melalui tangannya.

Demikian juga dengan pemberian MP-ASI pada anak terlalu dini. Banyak yang merasa “anak saya gak masalah tuh saya kasih makan dari umur 3 bulan”. Sehingga hal tsb menjadi “excuse” atau alasan untuk tidak mengikuti aturan yg berlaku. Padahal aturan tsb dibuat karena ada resiko sendiri. Lagipula penelitan ttg hal ini terus berlanjut. Saat ini mungkin pengetahuan dan hasil riset yg ada masih terbatas dan “kurang” bagi beberapa kalangan. Tapi di kemudian hari kita tidak tahu. Ilmu terus berkembang.

Dan satu hal yg penting. Aturan agar menunda memberikan MPASi pada anak kurang dari 6 bulan bukan hanya berlaku untuk bayi yang mendapatkan ASI eksklusif. Tetapi juga bagi bayi yg tidak mendapatkan ASI (susu formula atau mixed).

Semuanya akan kembali kepada ayah & ibu. Jika kita tahu ada resiko dibalik pemberian MP-ASI saat usia anak kurang dari 6 bulan, maka mengapa tidak kita menundanya. Apalagi banyak sekali penelitian & kasus yang mendukung hal tsb.

Apapun keputusan ibu & ayah, apakah mau memberikan MP-ASI saat anak berusia kurang atau lebih dari 6 bulan, alangkah baiknya dipertimbangkan dengan baik untung ruginya bagi anak, bukan bagi orang tuanya. Sehingga keputusan yg diambil adalah yg terbaik utk sang anak.
(Luk)

Sumber :

Solid Food in Early Infancy increases risk of Eczema, from original source : Fergusson DM et al Early solid feeding and recurrent childhood eczema: a 10-year longitudinal study Pediatrics 1990 Oct; 86:541-546.[ Medline abstract][Download citation]

World Health Organization (WHO). Infant Feeding Guidelines. 2003. Information for Health Professionals on Infant Feeding. www.who.int/ health_topics/ breastfeeding/ en/

World Health Organization (WHO). 2003. Global Strategy for Infant and Young Child Feeding. www.who.int

World Health Organization (WHO). Complementary feeding. Report of the global consultation. Summary of guiding principles. Geneva, 10-13 December 2001. www.who.int

Bila informasi ini bermanfaat, share informasi ini melalui FB atau twitter. Tekan tombol ini untuk berbagi informasi
  • Facebook
  • Twitter

9 Comments »

  • bundanyasha said:

    Kurangnya publikasi tentang pentingnya ASI eksklusif 6 bulan dan kurangnya dukungan dari lingkungan (suami, orang tua, saudara2, teman2, bahkan dokter & RS) seringkali menggagalkan program ASI eksklusif.

    Hal ini saya alami sendiri. 6 hari pertama kehidupan bayi saya sudah dihancurkan oleh pihak RS tempat saya melahirkan. Mereka memberikan sufor tanpa bertanya terlebih dahulu kepada saya apakah saya ingin menjalankan ASI eksklusif/tidak. Namun hal itu tidak menjatuhkan semangat saya. Begitu ASI saya cukup, langsung saya stop sufor tsb. Walau harus membuang sufor yang masih banyak. Kesehatan anak saya yang terpenting.

    Sudah saatnya publikasi ASI eksklusif digalakkan (sekarang udah mulai, tapi masih kurang galak:p)

    Beri tindakan tegas kepada RS dan atau dokter yang memberikan dan atau menyarankan pemberian sufor kepada bayi di bawah 6 bulan. Kalo perlu cabut aja izin prakteknya.

    Kepada para suami, orang tua, saudara2, teman2, bahkan dokter & RS, mohon beri dukungan kepada para ibu menyusui agar sukses memberikan ASI eksklusif 6 bulan. Mari ciptakan bibit2 yang berkualitas, sehat jiwa raga.

    Dee – BundanyaSha

    Mari dukung dan publikasikan program ASI Esklusif 6 Bulan
    http://bayikita.wordpress.com/2007/11/19/asi-ekslusif-6-bulan/

  • mety said:

    mkasi nie bisa jadi bahan tambahan untuk tugas makalah saya

  • Lucia said:

    Betuuuulll banget…
    Rumah sakit saya lebih kejam lagi, karena melahirkan caesar, saya baru bertemu dengan bayi saya dua hari setelah melahirkan. Itupun harus saya lakukan dengan lebih dulu berjalan tertatih-tatih menuju ruang bayi. Perawat sempat menawarkan mengantar asi perah ke ruang bayi, tapi dia tidak melatih bagaimana cara memerah asi. Alhasil asi yang dikirim cuma setetes, sedih rasanya…
    Belum lagi sampai rumah, karena asi belum lancar,mertua gencar menawarkan sufor. Biar gak nangis terus, biar gemuk dll. Waduh, saya harus berjuang keras lahir batin agar bayi saya bisa mik asi.
    Puji Tuhan, saya berhasil memberi asi eksklusif selama enam bulan (kecuali hari-hari pertama waktu di rumah sakit).
    Saya ingin menyemangati ibu-ibu lain agar keukeuh memberi asi, no matter what, no matter how…

  • henny said:

    vitamin/makanan apa untuk bayi 6bln agar sehat dan cerdas,sampe usia berapa perkembangan otak bayi dapat ditunjang dari vitamin???thanks

  • Mamanya sammy said:

    Wah maaf kalo kurang setuju bahwa RS itu kejam memberi Sufor tanpa ijin di hai awal kita melahirkan. Mungkin ada kebijaksanan medis yang harus dilakukan sehingga memberi sufor pada balita kita. Di hari pertama saya melahirkan anak saya juga dibri sufor karena saya melahirkan dengan SC otomatis hari pertama adalah hari saya belajar untuk gerak. Hari ke-2 anak saya dibawa keruangan saya itupun dengan dibekali botol dengan isi Sufor tapi karena ASI sudah ada ya mulai saya minumkan.

  • Mamanya Athar said:

    Saya melahirkan Athar secara SC . RS mendukung saya memberikan ASI Eksklusif. 5 jam setelah operasi Athar langsung diberikan kepada saya. Di hari 1 Athar hanya menerima tetesan ASI saya, tapi dengan tekat dan keyakinan saya, saya pertahankan hingga hari ke 3. Di hari ke 3 Athar dinyatakan kuning oleh Dokternya karena kekuranga cairan dan akhirnya di sinar, Saya masih bertekad memberikan ASI bagaimanapun caranya. Sekedar diketahui dari hari 1- 3 saya ditentang oleh suami. Suami saya tidak terlalu mendukung usaha saya sehingga sewaktu Athar kuning otomatis saya yang disalahkan. Sewaktu di sinar perawat disana membantu saya untuk memerah ASI. Setelah diperah payudara ini sakit sekali rasanya. Saya diminta utk istirahat krn 3 jam lagi ASI nya akan diperah lagi (Athar belum bisa menyusu dg benar ) ketika kembali ke kamar saya seperti terdakwa oleh suami. Dimana badan saya telah lelah karena selama 3 hari pertma Athar saya yg urus jadi otomatis jam tidur saya sangat kurang belum lagi bekas SC yg msh perih ,payudara sakit dan beban psikis yang saya terima. Akhirnya di bawah tekanan saya menyerah. Saya menangis karena tdk dpt memberikan yg terbaik utk Athar.Setelah keluar dr RS saya bertekad kembali memberikan ASI Eksklusif jadi sufor saya hentikan tiga hari berikutnya Athar kembali lagi di sinar dan diberi sufor lagi. Jadi akhirnya Athar diberi sufor dan ASI tapi saya masih bertekad memberikan ASI eksklusif utk Athar.
    setelah 1 bln memberikan sufor, sufornya saya hentikan dan sekarang Athar sdh 3,5 bln berat badannya naik cukup bagus 1 kg/bln. Akhirnya suami saya percaya walau hanya diberi ASI Athar bisa mendapatkan gizi yang cukup.
    Yang penting buat ibu2 yg ingin memberikan ASI ekskl. kuatkan tekad, jgn pernah berfikir ASI nya kurang. Dan sadarkan para suami dan keluarga agar memberikan dukungan penuh kepada usaha kita utk memberikan yg terbaik buat si kecil.

  • flash said:

    waduh..waduh… terkesima juga baca pengalaman ibu-ibu disini. cuma mau ikut nimbrung aja. saya 2 x melahirkan SC. yang pertama memang lumayan parah, karena waktu itu bius total jadi saya agak lama ketemu anak (setelah 5 jam), dan karena anak pertama, jadi asi blum keluar dan tiba2 rs udah kasih sufor. ya udah nurut aja. tapi akhirnya sang dokter anak yang memarahi suster dan minta sufornya dihentikan dan memaksa saya menyusui. Meskipun g sampe eksklusif (karena saya kerja dan asinya g banyak), tapi asi tetap saya berikan. Nah anak kedua nih yang rame. Karena dari awal udah ketauan bakal di SC, sang dokter kandungan mendiskusikan kemungkinan bius lokal. Katanya, bius lokal itu banyak manfaatnya, antara lain cepet sadar, bayi g punya peluang kebius juga, dan bisa langsung asi. Wah.. menarik. Jadi skenarionya, setelah bayi keluar, cukup dilap2 aja, langsung ditempelin ke asi ibunya. biar dia nyedot semaunya berdasarkan naluri. Cuma syaratnya, ibunya harus siap mental, mau kerjasama, dan berjuang!!! Akhirnya saya setuju…!! maka ketika melahirkan saya coba dan berhasil!!! Hore…!! Rasanya RUARR BIASA…, sementara dokter masih sibuk ngobras perut saya, sang anak udah ditempelin di dada, dibantu oleh suster. Subhanallah, sang anak terus mencari puting susu dan menyedot sedapatnya, bahkan menangis ketika terlepas. Situasi dibiarkan sampe dokter beres menjahit (kira2 1 jam lah). Baru sang anak diambil dan dibajuin (tapi belum dimandiin). Trus, langsung pindah ke ruang perawatan, karena saya gak pingsan, 2 jam kemudian anak langsung ikut.., bahkan saya langsung bisa memeluk anak saya dan langsung menyusuinya, g perduli asinya keluar apa nggak, sebab gitu kata dokter, susuin terusss…
    Nah.. besoknya, baru deh anakku dimandiin ama suster, disisirin, di bedakin dlsb..!! Meskipun lagi2 seperti anak pertama akhirnya g bisa eksklusif karena kurang asinya, tapi Alhamdulillah.. anakku langsung bisa kususui dan langsung nempel terus sama ibunya dari sejak dilahirkan.. Mau coba?? coba deh..!! melahirkan SC dengan bius lokal..dan langsung susui anak anda..!!

  • christine said:

    saya setuju banget & ikut ngedukung pemberian ASI eksklusif, oya artikel ini bangus banget, mohon ijin nya untuk saya buat link di multiply saya ya.. thanks..

  • Yuliana said:

    saya melahirkan secara sc. Sekarang anak saya berusia 2,5 bln tapi sampe sekarang asi saya masih sedikit keluarnya shg anak saya minum asi seadanya+susu formula. sedih rasanya gak bisa kasih yg terbaik buat anak. saya sudah melakukan apapun saran orang disekitar saya, mulai dari konsumsi daun katuk, makan kacang2an, minum vit penambah asi, sampai memperbanyak memberikan asi kpd anak. tapi tetap saja asi sedikit keluarnya. saya sampe bingung..apa lg yg harus saya lakukan agar asi saya bisa semakin bnyk.saya minta bantuan ibu2 yg mungkin punya saran tuk saya…..thanks

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.