Home » Misc, Tips

Tips Mengatasi Baby Blues

14 January 2008 14 Comments

Sharing kisah dari rumahpohonku.net

Saya melahirkan anak pertama enam tahun yll, di Iran, hanya dengan didampingi suami, tidak ada ibunda atau sanak saudara. Biaya telpon saat itu masih sangat mahal (sekarang sih, telkom Iran sudah banting harga) sehingga tidak mungkin menelpon berlama-lama untuk sekedar curhat kepada Ibu. Kontrakan kami pun jauh dari orang-orang Indonesia lainnya. Ada teman-teman orang Iran yang menengok sesekali, tapi tentu saja komunikasi tidak bisa terjalin dengan sangat akrab. Singkat kata, dalam ‘kesepian’ itulah, anak pertama kami lahir.

Pasca persalinan, kondisi psikologis saya benar-benar kacau, kondisi yang oleh para psikolog disebut BABY BLUES. Atas saran seorang dosen, kami pun berkonsultasi kepada lembaga konseling yang disediakan pihak sekolah. Kebetulan, yang menangani saya adalah langsung kepala lembaga itu, seorang ulama berjubah-bersorban-berjanggut (pada pandangan pertama, saya sempet sentimen loh, ini psikolog apa ustad:D).

Beliau ternyata benar-benar ahli dalam memberikan terapi. Dia merekomendasikan suami saya untuk skip kuliah semester itu supaya dapat mendampingi saya di rumah. Kami pun direkomendasikan untuk jalan-jalan ke luar kota dengan biaya dari pihak sekolah.

Terakhir, karena saya masih sering nangis dan marah-marah, beliau menyuruh dia pulang berlibur ke Indonesia dengan tiket ditanggung sekolah.

Alhamdulillah, ‘badai’ itu sudah berlalu dan Hikmahnya, saya jadi punya “jurus” yang sangat berguna untuk diterapkan dalam ‘melawan’ baby blues setelah persalinan kedua. Nah…. ‘ilmu’ inilah yang ingin saya sharing.

Baby blues adalah perasaan kacau-balau yang melanda ibu yang baru melahirkan (ini definisi ciptaan saya sendiri, hihihi). Konon 80 persen perempuan mengalaminya setelah persalinan. Detik ini senang karena punya bayi, detik berikutnya tiba-tiba sedih dan menangis bercucuran air mata. Susah untuk konsentrasi pada sesuatu, hilang selera makan, susah tidur, kadang bawaannya pengen maraaaah terus.

Saya juga waktu itu gampang panik setiap kali bayi menangis dan kebingungan harus melakukan apa.

Sebenarnya, “jurus-jurus” yang akan saya tulis di sini lebih cocok untuk ibu-ibu yang melahirkan sendirian, jauh dari kampung halaman, dan tidak ada ibunda atau saudara perempuan yang mendampingi (dan inilah ‘nasib’ saya ketika melahirkan kedua anak saya).

Jurus-jurusnya ini sebagian hasil pengalaman sendiri, sebagian lagi saran dari psikolog yang dulu menerapi saya.

Jurus pertama:
Sebelum si bayi lahir, waspadalah dan kenalilah gejala-gejala baby-blues seperti yang saya sudah tulis di atas. Hal ini sangat berguna dalam menghadapi ‘sambaran’ si baby blues.

Misalnya, ketika perasaan kita kacau-balau setelah melahirkan, pengetahuan tentang gejala baby-blues akan membuat kita berpikir, “Oh, ini normal, insya Allah akan hilang seminggu-dua minggu lagi…sabar…sabar…”

Jurus kedua:
Lepaskan saja emosi, gak usah ditahan-tahan. Mau nangis, marah, ya keluarin aja…

Sadarilah, bahwa kondisi ini normal dan dialami oleh hampir semua ibu, jadi tidak perlu ada rasa bersalah, apalagi merasa:”Aku ini bukan ibu yang baik”.Btw, di sini letak pentingnya pemahaman suami—jadi sebelum melahirkan, perkenalkan apa itu baby-blues pada suami.

Jurus Ketiga:
Usahakan tidur sebanyak mungkin (bahkan kalau ada kesempatan 10 menit pun, gunakan untuk tidur). Namun, supaya si ibu bisa tidur enak, ada hal-hal yang perlu dilakukan:Jangan pedulikan keadaan rumah yang berantakan, cucian yang menumpuk, dll. Memikirkan hal itu malah membuat resah dan susah tidur. Yang penting tidur dulu, urusan lain biar nanti diurus.

Buat manajemen pasca kelahiran (sebelum bayi lahir, perkirakan situasinya: misalnya suami harus kerja, anak harus sekolah, lalu buat planning untuk me-manage segala sesuatunya. Dengan cara ini, pasca melahirkan, kondisi rumah akan terkendali.)

Contoh manajemen itu:bikin masakan banyak-banyak, simpan di kulkas, jadi tiap akan makan, tinggal dihangatkan, tidak perlu repot2 masak lagi. beri tahu suami dan si kakak letak barang-barang kebutuhan mereka, sehingga tidak ada kejadian, si ibu tidur, suami teriak, “Maaa…bajuku yang biru itu di mana??” (bisa bubar deh tidur si ibu)

Bila sudah ada si kakak, pikirkan bagaimana caranya agar si kakak tidak mengganggu tidur ibu (misalnya, dititipkan ke tetangga dulu selama ayah sedang di kantor, atau dimasukkan ke play-group). Bila memungkinkan, sewalah asisten (aka pembantu), minimalnya untuk sebulan-dua bulan setelah melahirkan, ini akan menyelesaikan banyak masalah.

Jurus Keempat:
Bikin segar diri sendiri, antara lain dengan cara: Mandi berlama-lama (tentu saja, ketika ada si ayah yang menunggui bayi). Dandan yang cantik (melihat diri di cermin dan menatap penampilan lusuh dan lesu diri sendiri pasca melahirkan sangat mungkin akan menambah stress). Telponlah ibu, kakak, adik, atau teman-teman (jadi, sebelum melahirkan, anggaran telpon yang bakal membengkak pun harus diperhitungkan).

Berbicara dengan orang lain adalah salah satu obat terbaik dalam mengatasi baby-blues. Yang dibicarakan tidak harus melulu tentang bayi, malah lebih bagus lagi tentang hal-hal lain, misalnya tentang sinetron yang sedang ngetop di tivi (:D). Internetan dan chatting (pengalaman saya, setelah melahirkan anak kedua, saya segera online lagi, komunikasi lagi dengan teman-teman di Multiply, chatting hampir tiap hari dengan Neng Satpam tercinta… semua ini saya rasakan sangat membantu dalam menormalkan emosi akibat baby-blues).

Kalau sudah kuat jalan, pergilah jalan-jalan ke taman dekat rumah bersama suami, atau, bila sanggup, jalan-jalan sendiri saja ke mall untuk cuci mata atau shopping untuk diri sendiri (baju baru, sendal baru)

Jurus kelima:
Sadarilah bahwa badai pasti berlalu. Rasa sakit setelah melahirkan pasti akan sembuh, rasa sakit ketika awal-awal memberi ASI pasti akan hilang, teror tangis bayi lambat laun akan berubah menjadi ocehan dan tawa yang menggemaskan, bayi yang “menjengkelkan” (karena nangis dan nyusu mulu) beberapa bulan lagi akan menjadi bayi mungil yang menakjubkan, dll.

Setiap kali merasa susah hati, ingatlah betapa beruntungnya kita karena telah dikaruniai anak oleh Allah. Ucapkan alhamdulillah banyak-banyak, untuk mengingat bahwa rasa sakit, perasaan tak karuan, lelah, dan lain-lain, tidak ada apa-apanya dengan nikmat karunia anak yang sehat dan lucu.

Catatan:
Waspadalah … bila perasaan kacau-balau itu belum juga sembuh setelah lewat tiga minggu, berarti si ibu sudah terkena depresi (istilahnya: post-partum depression). Kondisi ini benar-benar harus diwaspadai.

Apalagi, bila sampai terlintas pikiran-pikiran aneh, seperti perasaan “Aku sepertinya akan melukai diriku sendiri atau bayiku” atau “Aku bukan ibu yang baik” atau “Aku tidak mungkin bisa membesarkan anakku dengan baik” atau “Lebih baik aku mati saja”.

Dalam kondisi ini, SEGERA minta bantuan dokter atau psikolog. JANGAN dipendam sendirian, bahaya!!!

Kalau depresi si ibu tidak diatasi, banyak masalah yang akan terjadi, antara lain: depresi itu akan menumpuk dan ketika si ibu melahirkan anak berikutnya, dia akan menderita depresi yang lebih parah lagi. Ketika sudah sangat parah (yang ditandai halusinasi, delusi, dan pikiran-pikiran aneh)… dampak ekstrimnya: bunuh diri atau melukai, bahkan membunuh bayi (naudzu billah min dzalik… lindungilah kami ya Allah…).

Sekian. Semoga ada manfaatnya.

jurus-jurus bagi ibu yang melahirkan sendirian, jauh dari kampung halaman

Bila informasi ini bermanfaat, share informasi ini melalui FB atau twitter. Tekan tombol ini untuk berbagi informasi
  • Facebook
  • Twitter

14 Comments »

  • Tias said:

    NiCe One…

    Not OnLy someOne whO LiveS far ApaRt frOm reLatIves Or ParenTs wHo experienCe tHis…

    BuT soMetiMes other PeopLe wiTh DiFF coNditTion anD baCkGrouNd aLso experienCe This…

    So ThiS PostIng Is reaLLy wOrTh to Read…

    ThaNks for THe PostIng…

    -TiaS-

  • belanegara said:

    istri saya juga sempat mengalami baby blues, bahkan lebih parah karena sudah terkena depresi (istilahnya: post-partum depression) hampir 6 bulan.

  • Freddy Hernawan said:

    ooo ternyata maksudnya baby blues itu tho maksudnya .. :) kirain penyakit pada bayi :) thx for the sharing bu

  • Siu Elha said:

    terima kasih atas sharingnya Bu / Mbak… aku juga dua kali mengalami post partum blues, atau baby blues ini, semua kiat mbak/bu ada benernya, dan yang paling penting adalah dukungan suami untuk lebig meluangkan waktu untuk kita. Jujur aja baby blues ini yang membuat saya agak trauma dengan hamil dan melahirkan. Rasanya lebih berat dari melahirkan itu sendiri..hehehe…salam kenal…

  • julfan said:

    terima kasih atas informasinya bu

  • aan said:

    ok bgt pengalaman para senior ibu2 yg sudah lengkap hidupnya….susahnya kalau suami jg ga ada dalam arti misua harus tugas keluarnegri yg ga mungkin u cuti…istilahnya bener2 single fighter gt with pembokat doang….ada yg pernah ngalamin ga para senior???

  • felix mom said:

    wah bagus juga sharingnya.kalau saya juga melahirkan anak pertama di korea,hanya ada suami,tapi Puji ?Tuhan…saya bisa mengatasi baby blues…karena lotto saya,”saya harus bisa”.Sekarang anak saya hidup sehat sudah 1 tahun,biarpun mengalami 4 musim dikorea.

  • Suvia said:

    Saya baru saja melahirkan anak kedua(Feb 08). Tp kondisi baby blue yang saya alami tentu jauh berbeda. Karena bayi yang saya lahirkan meninggal. Jadi saya mengalami depresi yang berat sekali. Dan saya tumpahkan dengan menangis dan menangis. Hal ini sangat berat sekali, karena di depan keluarga saya berusaha tegar, sepertinya saya mampu mengatasi semua ini. Tetapi dibalik itu saya diam2 menangis meratapi nasibku ini. Mana tekanan batinku bertambah dengan adanya berita kehamilan teman karibku. Memang ini adalah berita baik, tapi berita yang baik pada timing yang tidak tepat. Dimana saya masih bersedih, tapi temanku ini selalu menceritakan mengenai kehamilannya ini didepanku. Asalkan ketemu ada aja bahan yang diomongin. “Udah berasalah perutnya walaupun cuman jalan sebulan kehamilannya” ,” suaminya selalu membelai perutnya sebelum berangkat kerja and bla…bla….
    Wuiiih mengapa dia nggak bisa merasakan apa yang aku rasakan. Untuk tidak membuat emosiku makin bergejolak, paling saya cuman bisa berusaha menghindar.
    Selain itu banyak sekali yang suka menanyakan ” udah lahiran yah ??? anaknya cowo apa cewe?? Bagaimana saya harus menjawab ??? Bahkan di sekolahan anak saya yang pertama sempat yang menanyakan ” babynya ditinggal yah ???” pengen sekali hatiku ini menjerit ” iya…saya tinggal in di kuburan ” dengan perlahan air mata mulai lagi menetes di pipi ini.
    Kapankah badaiku akan berlalu???Akankah berlalu????

  • puspa said:

    ceritanya menyentuh sekali dan ternyata sy ga sendirian ..1th lalu sya juga seperti itu sampai sy tidak bisa memberi asi hanya 3bulan sj..sy operasi cesar karena pembukaan lama dan air ketuban sya pecah duluan pasca operasi mertua sy sgt2 menganggu kenyamanan hati sy karena sy ga boleh menggendong bayi sy katanya biar ga manja tp hanya dia yg menggendong..

    setiap memberi asi mertua sya mendikte hrus begini hrs begitu dan selalu menatap sy terus sya sampai stres dan akhirnya sya 5bulan cuma menangis ga berhenti2 cengeng dan penakut depresi berat.sampai akhirnya orgtua sya membawa saya kerumah dan sya ditenangkan sementara ..

    benar kalau dlm memberikan asi semua hrs mendukung dan pikiran tenang dan relax sekarang suami sy benar2 merasa bersalah krna waktu itu suami ikut memusuhi sya krna bersitegang dgn ibunya.. stlah mendapat penjelasan dr seorang dokter bhawa memang kondisi ibu yg baru melahirkan itu sgt rapuh barulah dia menyadari kesalahannya dan menebus nya dgn ikut membantu sya merawat de2k tanpa babby siter alhamdulilah ASI mash bisa ttp dikasih walaupun di campur dgn formula.

    sekarang walaupun masih perang dingin dgn mertua sy ga peduli yg penting anak sya saja. lega rasanya bisa shring begini…

  • arva said:

    mungkin banyak istilah yang digunakan salah satunya baby blues. setelah melahirkan anak pertama juni 2007, semua terasa sangat berubah, bahagia tetapi scr psikologis saya merasa tdk bisa menjadi wanita sempurna karna kalut dengan keadaan, kalut dengan tangis bayi ditambah dengan tidak bisa mengurus suami karena sibuk dengan baby…kurang tidur, sakit saat menyusui dll…
    tapi semua membaik saat saya mengkomunikasikan semua dengan suami, meminta pengertian dan mengajaknya untuk turut serta membantu…

    semua berubah, minggu2 berikutnya terasa begitu indah, aku bahagia sekali…

  • rahma said:

    kalo aku dah kategori depresi nih krn sampe 6 bln, mcm2 deh yg ada dipikiranku merasa sendirian, waktu itu suami kerjanya shift mlm jadi klo plg kermh dianya lgsung tertidur, makanya aku merasa kesepian deh…tapi aku cuma fokuskan ma anak aja, trs msk kerja lagi bisa baca2 blog ibu buat belajar maklum ortu baru dan jauh dari keluarga juga…

  • alinie said:

    aduh…pengalaman nya sama banget,saya juga pindah ikut suami yang kebetulan org jerman…..kita pindah ke berlin karena suami saya di tugaskan oleh perusahaannya sementara keluarga suami ada di köln jadi bener2 sendirian deh…sementara saya berasal dari keluarga besar yang kerjaannya ngumpul terus,jadi berasa banget kesendiriannya…nangs ga berenti2..sedih terus…tapi untung suami saya super sabar ngatasin saya yang super duper nyebelin,kesel deh denger anak sendiri nangis…untung sekarang udah lumayan bgt…anak saya udah 5 bulan sekarang..kesepian sih masih tapi ambil positifnya aja…jalan 2 sendiri ke park..kenalan ama ibu2 lain..udah rasanya mendingan banget…ya mudah2an tambah lama bisa tambah baik ya.

  • Nurani said:

    Wah…ternyata aku salah mendefinisikan baby blues. dan ternyata baby blues justru menyerang si ibu, bukan bayi. Pengetahuan ini sangat berguna bagi aku, meskipun sudah dua kali melahirkan. Berarti aku dulu juga sempat mengalami baby blues, hanya tidak parah. Tips-tips dan trik mengatasinya sangat berguna bagiku. Thanks banget ya.

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.